Saturday, December 15, 2018

#14

Semua ini alamlah yang mempersatukan, tak pernah ku memilih dirimu untuk aku cintai. Tak pernah ku paksa rasa untuk peka. Semua mengalir mengikuti hembusan angin yang pasang surut. Hanya saja tatkala mentari di petala langit betapa kurasakan nestapa yang begitu rumit hingga senja menjejalkan dirinya di mataku perihal itu tak kunjung ikut sirna tertelan bumi. Tidak dapat dijelaskan lagi dengan lisan ataupun guratan yang tentunya aku mencintaimu dengan statis. Maafkan aku yang sedang terkoyak-koyak di dalam ruang rindu tuk memastikan engkau tetap dalam rongga terdalam. Dan membuatmu menunggu, menunggu lalu tergantung....

#13

Kemarilah sayang, kupersilahkan peluk ini untukmu. Tenggelamlah di dada bersama mimpimu sedalam-dalamnya. Kemarilah, kaitkan jari-jarimu dengan jari-jariku. Begitu terasa desiran darah yang mengalir hingga keotak. Tak ingin aku bosan untuk hidup bersamamu. Ciuman demi ciuman mendarat di wajahmu yang kurasa tuluslah dirimu saat ini walau dalam nestapa. Perpisahan adalah benci yang berulang dan sebenarnya aku tak ingin berada di posisi yang mematikan rasaku secara perlahan.

Sunday, December 9, 2018

Dalam Senja Yang Menua, Copy Right 2015

Di temani mentari yang semakin termakan garis langit

Ombak berayun bergulung berkejaran

Melikuk-likuk mendung memposisikan barisan

Angin sepoi menggoreskan kelembutan di permukaan air 

Kacamataku hendak memalingkan itu semua 

Namun, mesin otakku tak mengizinkannya

Dan memprogram rangka ini tuk bergemulai

Mengikuti nada-nada desiran pasir

Alunan itu semakin menguatkan emosiku

Udara yang semakin dingin 

Membekukan bulu kudukku 

Gerakku semakin erotic 

Hingga aku dalam khayalanku 

Titik lelahku memerah 

Kumohon hentikan! 

Jangan buat aku tenggelam, 

Semakin tenggelam dalam klise 

SEPERTINYA, Copy Right 2013

Mungkin aku dan kamu dipandang temen-temen kita cocog. Namun entah apa yang merusak kata itu. Mungkin ini juga salahku karna aku terlalu berani mengatakan ini semua. Aku ingat dengan kenangan-kenangan indah itu, aku ingat kata-kata itu dikala saat itu 22 September 2011. Aku ingat semua omongan temen-temen tentang hubungan kita, aku ingat semua cerita cinta kita, aku ingat harapan dan janji-janji kita. Namun, mungkin semua kan berakhir, dengan hanya satu alasan. Kebosanan menyelimuti dinding hati ini. Keinginan tuk sendiri menaburi naluriku untuk bebas merasakan dunia yang baru. Cinta yang dulu datang dengan malu-malu. Yang membuat semua berubah menjadi sepi. Dulu, dikala merah putih yang tak tahu apa arti sebenarnya cinta, masa biru putih memulai merakit cerita, walau dusta banyak mengelilingi kita berdua. Masa putih abu-abu yang baru mulai mengalir. Namun, di sini, terdapat godaan-godaan yang lebih gila! Cinta yang dulu ku pungkiri, kini datang dengan beribu harapan, berjuta kemesraan, bermiliaran kasih sayang yang terus menghantuiku.  Semuanya datang dengan tiba-tiba. Aku takut bila cinta itu tak seindah cinta yang kamu berikan. Bagaimana ini? Haruskah cintaku putus di tengah langit? Membelah matahari dan menggelapkan seluruh cinta kita? Akankah harus ku memanggil bulan untuk tetap menjaga bintang cinta ini agar tetap bersinar dan menghangatkan naluriku. Ku ingin semua bahagia. Tanpa ada rasa luka. Dan ku ingin pelangi hadir memayungi perasaan ini dikala hujan bimbang yang tak henti-hentinya turun. Walau dinginnya terasa namun, aku butuh embun tuk menyegarkan kerongkonganku yang haus akan perhatianmu, cintamu, dan seluruh kasih sayang yang pernah engkau berikan. Agar  perasaanku padamu tak pernah lagi berkeliaran.

Monday, October 22, 2018

#11

Kali ini hujan yang tak kunjung reda membawaku semakin jauh menyelami kenangan. Ya bersamamu, sudah ku pastikan rasa itu kian lama kian tumbuh. Ia terus berkembang membentuk lapisan yang sulit dihancurkan. Perasaan ingin tahu tentangmu semakin besar. Rahasia tentangnmu semakin ikin ku selami. Apa sebuah arti ketulusan itu jika ketulusan itu ternyata salah sasaran. Pertanyaan2 macam itu tak dapat dijawab juga sulit diucapkan. Hanya dihati dan hanya melayang-layang bebas di angan tanpa jawaban yang pasti. Dan pada akhirnya kata pasrah yg menguasai. Serahkan semua kepada Tuhan apa yg akan terjadi dan aku benci. Segala hanya diujung bayang.

#10

Bunga matahari
Bahagia lambang darinya
Mekar semekar hatiku
Besar sebesar sabarku
Kuning menyegarkan hatiku
Yang tengah rapuh karena mu

Sunday, October 7, 2018

CARA PEMASARAN PRODUK AGAR LANCAR/ LARIS MANIS

1. Lakukan riset pasar untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh masyarakat.
2. Segera membuat Brand yang cathy --> artinya indah dan mudah diingat.
3. Lakukan promosi yang baik.
4. Lakukan testimoni

*7

Rinduku telah mendarat dengan tepat. Kedua tulang rusuk telah saling berdampingan . Walau hanya sekejap.Telah sedikit melebur sesak kemarin yang belum sempat tersampaikan.
Resah juga telah tergantikan dengan pelukan yang begitu dalam. Tatapan kosong kini telah berisi binar yang begitu tajam. Namun, aku sudah siap lagi untuk rindu selanjutnya. Karena mungkin nanti semakin menggebu. Rasanya tak ingin kau tinggalkan lagi, tapi apalah daya sebuah tuntutan tujuan yang dinamakan bahagia. Ya.. Definisi bahagia menurut mereka. Karena bahagia menurutku tak melulu soal materi, tetapi seberapa banyak persaudaraan yg kau rakit.  Itu sebuah kebahagiaan yang tiada tara dan tak pernah habis.

Wednesday, October 3, 2018

#9

Aku tidak tahu.
Aku seperti melepas sesuatu yang pernah ada.
Sedih namun aku lega...
Bulan biru berakhir.
Semoga kita bertemu di lain waktu.
Aku selalu merindukanmu
Selalu
Terima kasih telah pernah menjadi mimpi indahku
Salam
Lebah

Sunday, September 30, 2018

20 SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI NOL

1. Tentukan alasan anda merintis usaha itu.
2. Pertimbangkan modal yg anda punyai
3. Tentukan tempat usaha
4. Ketrampilan apa saja yang anda punyai
5. Berapa karyawan yg anda libatkan.
6. Tentukan manajemen perusahaan anda
7. Membentuk pemasaran
8. Menempatkan orang dalam ahli IT
9. Tentukan bank yang menjadi mitra anda
10. Jalani bisnis ini secara sungguh2
11. Pertimbangkan agunan yang anda miliki
12. Jadikan sebuah mimpi menjadi kenyataan .
13. Berfikir output of the box (berfikir kreatif)
14. Yakinkan dirimu supaya sukses
15. Persiapkan modal bisnis yang akan dijalankan
16. Berorganisasi secara baik dan benar.
17. Rajin membuat catatan perkembangan
18. Fokus pada satu bisnis dulu
19. Terbuka thdp setiap evaluasi
20. Terus belajar dan jangan cepat puas

Tuesday, September 18, 2018

#7

Kita dekat tapi kita tidak bisa menyatakan
Karena aku meragukan diriku sendiri
Aku takut
Aku takut dengan resiko
Walau saja aku tahu itu akan membuatku lebih bahagia
Namun sayangnya aku sadar bahwa aku juga menjadi alasan ia bahagia
Jadi, aku tidak bisa
Biarlah aku sendiri yang terluka
Mungkin kamu juga
Tapi, semua sudah kujelaskan diawal
Segala rasa yg pernah ada
Kumohon kamu mengerti
Karena aku yakin kamu diciptakan untuk menjadi kuat

*6

Aku tersibukkan oleh kegiatanku. Cukup lelah bulan ini. Dan terkadang aku mengingatmu. Terkadang sekelebat kerinduan itu menghampiriku tanpa permisi dan tak tahu waktu. Rasanya ingin menitikkan air mata... Biar saja aku alay karena aku tidak pernah memikirkanmu dengan logika. Puncak paling manis saat hujan dan rindu sedang menyatu. Engkau begitu pekat teringat di anganku. Bertemu kamu, memelukmu sedalam mungkin atau mengecup dan menyapa sedikit senyummu yang jatuh di mataku itu adalah harapan jiwaku malam ini. Otakku berjalan tak tentu arah. Ragaku yang biasanya kau topang mulai lelah berdiri sendiri. Entahlah, apakah ini yang dinamakan saling melengkapi? Terasa sepi tiada hadirmu. Tiada yang ngomel2 karena sudah selalu berusaha meluangkan waktu. Dann... Tak ada lagi yg cemburu karena sesuatu yang sederhana. Walaupun terkadang aku jengkel dengan kamu yang selalu cemburu dengan apapun. Tapi, yasudahlah itu tak penting kali ini. Yang kuingat hanya hal2 indah yang pernah kita lalui. Percik percik kenangan semakin jelas menyulut kerinduan. Membuat ia berkobar membara di dada. Semoga rinduku ini terbawa bulan yang akan berganti mentari dan menyampaikan rinduku esok nanti kepadamu yang semoga tidak terganti. 

Friday, August 24, 2018

*5

Aku mulai merindu lagi. Kali ini begitu sendu. Memikirkanmu adalah hal yang auto. Tak perlu mengatur kapan aku rindu. Rindu datang seakan semakin meredupkan malamku. Ku tatap bulan sedalam mungkin. Karna aku tahu... Malam ini kau pun merinduku. Tapi, segera kuhapus bayangmu. Semakin larut semakin pula aku hancur karena merindu. Ku hempas rasa ingin jumpa karena percuma tiada usaha untuk bisa bersama...

Friday, August 17, 2018

#12

Aku tidak pernah merasa baik baik saja kalau jauh darimu. Tiada yang lebih manis dibanding sikapmu kepadaku. Tiada senyum terindah selain senyummu. Di sini aku seperti sendiri. Tapi tak apa.. Aku menikmatinya.

Wednesday, August 8, 2018

*4

Malam ini bulan tak menampakkan diri. Begitu pun dengan bintang. Mendung seakan menyelimuti semuanya. Kecuali rinduku yang tiada menghilang. Semakin malam semakin menjadi. Derai air mata mulai membanjiri pipiku yang sedari tadi mencoba tegar, mencoba baik-baik saja dan mencoba tersenyum. Namun, mata telah sayu dan tidak tahan untuk membayangkan kau berdiri di depan ku seperti biasanya. Atau kau duduk di sampingku saat ini menemani malam ku yang sepi. Kemarin aku sempat berkata aku akan baik-baik saja di sini. Tapi nyatanya tidak semudah itu jauh darimu. Aku hanya selalu berharap dan berharap. Bahwa kamu di sana sehat selalu serta diberi kemudahan untuk segala urusanmu. Di sini aku aku bersama demua yang menyayangimu selalu mendoakanmu untuk yang terbaik. Selamat berjuang sayang. Aku mencintaimu. Selalu. Aku yang merindukan candamu. 😔

Monday, August 6, 2018

*3

Hari ini aku tidak sedang rindu. Hari ini aku lelah. Badanku terasa sakit. Aku sedang ingin mengadu. Memang tiada lagi selain dirimu untuk mengadu segala keterpurukanku. Mengadu segala kecemasanku tentang semuanya. Tentang segala hal yang membuatku sakit. Kau tahu? Hatiku sedang tak enak. Dan aku tidak sedang menyendiri namun memang sedang sendiri. Di manapun, kapan pun aku sedang tanpamu. Tanpa sapamu yang tanpa kusadari melebur segala lelahku selama ini. Candamu yang kadang membuatku jengkel mengobati rasa nyeri hati. Usapan tanganmu menenangkanku saat aku merasa risau. Entahlah.... Aku memang tidak rindu. Tapi, aku ingin kamu seperti biasanya. Jangan pergi dan jangan pernah berubah. Aku mencintaimu tanpa kusadari.

Saturday, August 4, 2018

*2

Rindu
Aku rindu
Cuma rindu
Cuma ingin liat kamu
Pengen ikut
Tapi, gimana
Kita tidak pernah jauh 😔
Ternyata aku takut kehilangan kamu
Aku tidak bisa
Semua sudah terjawab
Aku mencintaimu
Tidak hanya sekedar
Semua lama
Aku rindu
Rindu

Friday, August 3, 2018

*1

Pagi ini kita berbeda. Kita berselimut bahagia yang teramat. Hingga kita saling meneteskan air mata. Berkaca pandang seakan semuanya akan terasa baru. Ya... Memang baru... Kau akan memiliki dunia yang baru. Begitu pun aku... Aku harus menyiapkan diri untuk tidak dekat denganmu. Kita sama2 memperkuat telepati agar kita bisa saling komunikasi karena hp saja tidak sanggup untuk mengutarakan rasa rindu yang akan datang menyiram seluruh tubuh ini. Aku risau karena tidak tahu harus bagaimana. Dan ini sejarah terlama kita tidak bersandingan. Ya... Sungguh ini berat. Sedikit. Tentang rindu tentang kamu tentang sesuatu. Dan hanya kamu di sini. Di hatiku. Yang kini keyakinanku mulai tertuju padamu. Jauh lebih jauh dan paling jauh hanya untukmu.

Sunday, July 8, 2018

JOGJA PEMENANG FESTIVAL OLAHRAGA TRADISI, JAMBI

Puji syukur selalu karena tidaak menyangka bakalan menjadi yang terbaik. Saingannya banyak ada 20 peserta dari seluruh Indonesia. Tapi, memang hasil tidak pernah menghianati proses. Pagi-pagi latihan, sore latihan sampai capek banget... Sampai badan remuk rasanya. Seperti tinggal sisa-sisa semangat tapi harus tetap membara.

Permainan ini mengunakan piranti yang ada saat panen padi. Ada orang-orangan sawah (memedi sawah), jerami, untaian padi, hingga alu, dan tenggok tempat padi. Permainan dibagi menjadi dua tim dan dimainkan empat orang.

Tahap awal, peserta akan berlomba mengambil alu dan sarung dengan berjalan secara duduk menggunakan tangan. Setelah berhasil mendapatkan alu, tiga pemain berjalan bersama dilingkari sarung.

Kalau mau lebih detailnya bisa buka website
https://m.topskor.id/detail/77194/Yogyakarta-Juara-Papua-Minta-Jatah

I love Indonesia
Semoga olahraga tradisi semakin diakui...
Salam olahraga 🙏




Monday, July 2, 2018

#6

Kalau aku rindu
Aku harus apa?
Aku mengagumimu sangat
Memang tiada yg perlu dipuji
Namun, segala sesuatu yg kau lakukan
Aku bisa memaklumi
Aku bisa tersenyum
Dengan segala candaan yg kau lontarkan
Di mataku semua begitu wah
Walaupun itu hanya sederhana
Hatiku bertekuk lutut kepadamu

Sunday, July 1, 2018

#5

Menusuk bukan hanya perihal pisau
Namun, begitu juga dengan namamu
Yang nyatanya ia selalu menusuk degup
Di saat aku mencoba memanggil namamu
Dalam hatiku

Tuesday, June 26, 2018

#4

Maaf kalau aku pernah membuatmu nyaman. Maaf kalau aku pernah membuatmu salah sangka. Maaf karna permainanku yang membuatmu terperangkap dalam rasa. Permainan yang membuatku juga merasakan hal yang sama denganmu. Permainan yang menyatakan yang hayal hingga selama ini kita terkurung dalam nafsu.

#3

Kita hanya saling memendam
Memendam amarah
Memendam kecewa
Memendam sakit
Memendam kasih
Yang tiada ujung
Kita sama2 mengerti
Bertahan dalam luka
Menahan lara yang semakin murka
Yang sudah pasti semua tiada akhirnya
Bagaimanapun caranya
Hanyalah hayalan semata

#2

Aku rapuh
Melihatmu
seakan menatap rasa sakit yg tiada henti
Bagiku semua sudah berakhir
Namun, ya entahlah

Saturday, June 23, 2018

#1

Aku tidak pernah bilang aku mampu. Aku hanya melewatinya semauku. Saat itu membuatku nyaman. Membuatku bahagia aku akan selalu mengusahakan. Senyum kawanku begitu menyejukkan di saat hati terasa mati.

Friday, June 22, 2018

Di mana?

Aku membenci. Tapi, aku tak tahu apa yang seharusnya ku benci. Mungkin rasa. Tapi, rasa yang mana? Aku tahu di saat mengagumi hanyalah sebatas.  Namun, mengapa itu sangat sakit. Lalu di mana yang namanya cinta sejati? Apakah di saat aku menbenci rindu? Atau di saat menerima semuanya dengan ikhlas? Atau di saat semuanya benar2 terasa menyakitkan. Entah saat ingin memandangnya lama-lama atau hanya sekedar lewat di sisinya. Kita saling tetapi, ditidakakankan. Lalu, di mana cinta sejati... Yang kurasa telah tiba2 menghamipiri dengan tidak pasti.

Thursday, June 21, 2018

LIVE PASSES


The flowers think they gave birth to seeds, 
The shoots, they gave birth to the flowers, 
And the plants, they gave birth to the shoots, 
So do the seeds they gave birth to plants.
You think you gave birth to the child.
None thinks they are only entrances
For the life force that passes through.
A life is not born, it passes through. 

ENTAHLAH

Bagaimana rasanya bahwa kalian bertemu disuatu waktu. Tapi, tidak dapat melepas rindu. Bahkan berbicara saja terbata. Bukan karena apa2 melainkan menjaga hati yang pernah terluka itu sulit. Ya, membangun kepercayaan lagi itu menjadi sesuatu yang menakutkan. Sedikit saja goyah akan meruntuhkan semuanya. Walaupun masih sekedar berteman itu tidak bisa seringan sekedar untuk hati yg pernah digores. Untuk menerima saja sulit. Apalagi memulihkan. Ya... Memang harus sabar. Berkorban untuk yg selalu mengorbankan dirinya.

MEMILIH DIAM

Aku bertemu
Bertemu ia yg pernah membuatku tersenyum
Sekarang masih. .
Tapi, aku memilih diam
Aku tersenyum sebagai teman
Bukan tambatan

Sudah lama aku tidak bertemu
Walaupun terkadang rindu
Namun, biarlah rindu itu mendarat dengan salah
Sudah ku urungkan semuanya
Kembali pada hal yang seharusnya kulalui
Bukan pergi mengikuti garis melintang

Friday, May 25, 2018

KEMBALILAH edisi Lomba Buku Mojok

Kemari sayang, Pulanglah...
Mata ini mulai sendu
Pulanglah...
Hati ini mulai pilu
Pulanglah...
Dan aku kini mulai merindu padamu yang ku candu
Pulanglah ....
Apakah kau masih mengingatku?
Ya, aku adalah masalalumu
Tapi, apakah aku salah?
Menunggu kepulanganmu,
Untuk kembali menjadi pengisi hari-hariku

Friday, February 23, 2018

Rinjani Surga yang Terdampar





Sebuah perjalanan mendekati cakrawala. Suatu tempat dengan koordinat 8°25’ LU 116°28’BT dan 8,417°LS 116,467°BT lalu di ketinggian 12,224 kaki yang harus menguras ego, kesah dan darah tinggi hingga kering. Karena di sini hanya kaki yang akan terus melangkah, tangan yang akan selalu siap menolong kapan pun, tubuh yang akan menopang beban, mulut yang akan terus berdoa serta mengucap syukur dan mata yang akan selalu disapa hamparan keindahan yang maha dahsyat. Di sini, di tengah salah satu belantara tropis pertiwi. Taman Nasional Gunung Rinjani. Pengalaman perjalanan yang membuatku merinding setiap aku mengingatnya. Pengalaman yang membuat mataku menerawang jauh kembali pada masa perjalanan itu.
Tulisan-tulisan dalam buku harian tahun 2015 ku menjadi saksi tertua tentang rencana perjalanan yang penuh cerita. Rentetan rencana tersusun rapi untuk eksekusi perjalanan yang akan ku laksanakan di tahun 2016. Tepatnya 11 April 2016 menjadi tanggal sakral untuk keberangkatan ku menuju secuil surga yang terdampar di bumi. Aku tidak sendiri melainkan bersama sahabat-sahabat yang diutus oleh Tuhan untuk bersama-sama menapaki tanah Rinjani.
Di langit timur telah semburat kemerahan menandakan sang Ratu Jagat Raya telah terbangun untuk menerangi wilayahnya. Kami ber lima telah siap dengan beban carrier di punggung, kami tak lupa gaya sok cool khas kami berlima telah terpasang beberapa jam yang lalu. Lalu, kami menuju kereta yang menuju Banyuwangi. Yah kami berada di kereta sekitar 14 jam hingga matahari telah pergi menerangi bagian bumi yang lain. Petang itu kami langsung menyebrangi selat Bali dan menggunakan bis malam menuju pelabuhan Padang Bay untuk menyeberang ke Pulau Lombok. Memerlukan waktu sekitar empat jam untuk sampai ke Pelabuhan Lembar, Lombok.
Perahu nelayan, perahu barang, kapal ferri, kapal tambang dan masih banyak kapal-kapal yang lain menyapa kami di pelabuhan Lembar. Orang-orang dengan pakaian khas adat Pulau Lombok juga ikut menyapa kami dengan menjajakan kain-kain khas dari sana. Namun, pedagang nasi bungkus lah yang kami terima sapaannya untuk kali ini. Lumayan untuk mengisi perut, nasi bungkus khas Lombok. Waktu itu langit sepertinya juga ikut menyapa karena mendung sudah menurunkan hujan begitu lebat hingga kami berteduh di parkiran mobil sambil menunggu jemputan mobil sewaan kami.
Dingin terasa karena AC mobil dan baju kami sedikit basah terkena hujan tadi. Mau ganti pakaian tapi, biarlah nanti juga kering sendiri. Lagi pula kami tidak membawa stok pakaian yang banyak untuk rencana yang lumayan menghabiskan hari ini. Butuh beberapa jam untuk sampai ke Sembalun. Sembalun adalah desa di mana ekspedisi kami akan segera di mulai. Di sepanjang jalan mata ini dibelalakkan oleh bukit-bukit yang hitz, indahnya bukan main dan tentunya mengganjal di mata dan efeknya tidak menyebabkan ngantuk.  
Kaki langit sudah dalam kegelapan, semua masjid mulai mengumandangkan adzannya. Kami pun merapat di dalam rumah atau biasa disebut dengan basecamp setelah puas mengamati gunung tertinggi kedua di negara ini dari halaman belakang basecamp. Menata diri, menata hati dan tentunya menata barang yang akan di bawa untuk eksekusi besok pagi. Setelah itu kami tidur agar stamina selalu fit.
Sapi-sapi mulai di lepas oleh pemiliknya dibiarkan berkeliaran mencari makan begitu saja, terserah kemana arah kaki mereka melangkah. Menjelang magrib mereka akan pulang kekandang dengan sendirinya. Sapi-sapi itu mengiringi awal ekspedisi kami dari basecamp. Sebelum keberangkatan kami berpamitan kepada pemilik basecamp karena sepulangnya dari Rinjani tidak melewati jalur yang sama dan tidak lupa juga kami membayar seluruh sewaannya. Setelah itu kami berdoa dan mulai menapakki hamparan ladang dan sabana sebagai langkah awal piknik cerdas ini.
Rute mulai menanjak pada pos 1 menuju pos 2 tak jarang kami bertemu dengan turis-turis asing sedangkan untuk turis lokal kami jarang berjumpa. Jalurnya menyenangkan, masih terbuka dan belum memasuki hutan. Walaupun kami begitu senang tapi kami kelelahan juga. Kami menyempatkan beristirahat di pos 2  sambil menikmati pemandangan. Di pos 2 suasananya ramai. Banyak turis asing beserta guide dan porternya sedang beristirahat juga dan makan siang. Melihat masakan-masakan dari porter sepertinya lezat sekali, buahnya aduhai membuat menelan ludah. Lalu, apalah daya kami yang tanpa porter dan guide. Nasi bungkus dari basecamp pun juga lezat. Hihihi....
Matahari mulai diatas petala langit, sinarnya seperti membakar kulit-kulit ari yang masih melekat. Walaupun begitu kami memutuskan untuk melanjutkan ke pos 3. Jalan yang sangat lambat karena panas dan lelah yang mulai menyelubungi niat kami. Namun, semangat tetap membara. Sekeliling kamilah yang menguatkan hingga tidak kerasa sudah sampai di pos 3 saja. Di situ kami mendirikan tenda, dan mulai memasak. Karena di dekat pos 3 terdapat sungai yang agak kering kita mencari air juga dan ternyata airnya ada di ujung sungai itu yang ujungnya adalah air terjun. Setelah perut kenyang kami beranjak ketenda dan segera membuat mimpi karena esok harus bangun pagi-pagi dan melanjutkan ekspedisi. Di sini baru saja seperempat perjalanan.
Sebelum matahari menampakkan koronanya kami terlebih dahulu siap untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini bukit yang konon sangat menyesal karena namanya bukit penyesalan. Lah sudah, lupakan tentang bukit penyesalan dinamakan itu karena bukitnya begitu menanjak dan susah dilalui. Namun, tidak berlaku untuk kami. Memang kami tahu tentang adanya bukit penyesalan itu tapi, kami tidak tahu di mana letak bukit itu. Sedangkan kami tahu letak bukit penyesalan setelah kami tanya kepada seorang porter tentang keberadaan kami. Kami telah berada di atas bukit penyesalan dan kami diucapin selamat oleh porternya karena sudah melewati bukit penyesalan tanpa menyesal.
Gerbang menuju puncak mahadewi, puncak Anjani ataupun puncak Rinjani adalah Pelawangan. Di mana satu sisi nya terlihat kaldera dengan Gunung Barujari dan Danau Segara Anak serta sisi satunya terlihat samudera. Kami mendirikan tenda di situ dan melakukan hal yang sama seperti di pos 3. Memasak, mencari air, makan, tidur dan bedanya kali ini kami harus bangun pukul 00.00 untuk summit attack. Itu mah bahasa gaulnya untuk muncak hehe... mengapa kami muncak jam segitu? Ya karena kami sadar kami masih lambat untuk berjalan dan tentunya untuk berjaga-jaga agar tetap aman dan tidak ketinggalan untuk mendapatkan sunrise.
Antariksa masih menyuguhkan jutaan bintang dan galaksi yang terpapar dengan nyata. Udara dingin saling beradu dengan kabut tipis menambah syahdunya suasana. Pasir, batuan kecil mengiringi langkah kami yang menurutku ini begitu memuakkan. Walaupun kanan kiri pemandangannya oke gerutu ini masih terucap dalam hati. Jalur leter S leter U lalu leter apalagi pekikku ya tentunya di hati. Sebal rasanya karena lapar dan dingin sesekali membuatku untuk berhenti dipinggir dan bersembunyi diantara batu-batu besar agar tidak terkena angin yang maksimal menambah dinginnya tubuh. Setelah agak semangat dan sedikit mengeluh lagi dengan diriku sendiri pasir ini lagi-lagi membuat semangatku menjadi abu-abu, selangkah merosot melangkah lagi merosot lagi begitu saja sampai tahun depan pikirku. Hingga akhirnya aku merasa putus asa, merasa sudahlah puncak hanyalah bonus, kan tidak harus ke puncak. Air mata ku pun lambat laun mulai menetes. Suasana hati yang kacau membuat ku ingin berhenti sampai di sini saja. Aku lelah ya aku lelah. Aku terdiam sejenak, melihat sekelilingku orang-orang bersemangat menapakki jalan berpasir itu. Matahari juga mulai memunculkan koronanya di sela-sela awan putih nan tebal itu membuat warna-warna indah di langit. Tuhan bantu aku. Seketika rasaku kembali bangkit aku harus bisa. Bagaimana pamitmu kepada Ibumu pikirku. Ya aku pamit ke Rinjani dan di puncaknya. Dengan tekad yang telah kembali aku mengusap air mataku dan walau sebenarnya air mataku terus menetes mengiringi setiap jejakan kakiku. Langkah demi langkah dan akhirnya.....
Langit biru membentang dengan segala hiasan-hiasannya, awan-awan kecil beriritan membentuk seperti samudera. Awan-awan liar berkeliaran dengan liar di antara bukit-bukit Pelawangan membentuk seperti air terjun. Terlihat jelas samudera dengan tiga pulau ternama di Lombok, Gili Terawangan, Gili Air dan Gili Meno. Dalam Kaldera Danau Segara Anak menjadi ratu dan Gunung Barujari menjadi rajanya keindahan. Exited. Kata yang pertama kali terlintas dalam otakku. Rasa syukur yang teramat. Rasa kagum tiada duanya dan entah rasa yang benar-benar hanya dapat dirasakan bahkan dengan gambar pun tidak mampu diperlihatkan. Mataku mulai berair lagi. Kali ini bukan gerutu namun kebahagiaan. Ini... benar-benar surga yang terdampar.
Setelah kami menikmati hamparan keindahan dengan cara kami masing-masing kami memutuskan untuk kembali ke tenda. Karena masih ada satu titik di mana kami akan membeku untuk kesekian kalinya. Oh ya tentunya kami tidak lupa berfoto, kesempatan langka ini ... :D
Sejenak istirahat dan mencari air untuk persediaan. Kami melanjutkan perjalanan menuju kaldera. Tidak nanjak lagi melainkan menuruni bukit. Cuaca waktu itu berkabut hingga meneteskan embun-embun kecil. Walaupun begitu kami sangat antusias untuk segera sampai ke danau Segara Anak. Di perjalanan ternyata tidak sesingkat yang dibayangkan. Jalanannya berupa bebatuan yang keras, licin dan jalurnya berada di tepian jurang. Tergelincir sedikit saja pasti akan terluka bahkan mungkin patah tulang. Sedikit demi sedikit dengan penh kesabaran dan juga tergesa-gesa karena takut kemalaman soalnya ya begitulah tahu sendiri rasanya senja di gunung di dalam hutan.
Dari tadi matahari sayu karena tertutup mendung, hingga senja pun tidak mendarat dengan sempurna. Akhirnya kami sampai di depan hamparan air yang luas dengan gunung aktif kecil di tengah perairan. Sebenarnya agak kekiri sih. Di pinggir danau itu kami mulai membangun tenda, memasak nasi karena sedari tadi pagi kami menahan lapar dan hanya mengganjalnya dengan camilan-camilan ringan. Di sisi lain tempat ini banyak ikan mas dan mujairnya loh, banyak orang-orang yang sedang mancing juga. Sayang kami tidak ada yang bisa mancing dengan profesional. Kail dan benang bawa tapi tidak satu pun ikan yang di dapat ikan kecil-kecil saja lari. Lalu, temanku tidak putus asa begitu saja, dia melepas sarungnya dan segera menjaring dengan sarungya. Tidak seperti yang dibayangkan sulit sekali ternyata untuk mendapatkan ikan. Akhirnya tetangga sebelah yang baik hati suka rela memberikan hasil pancingannya kepada kami, namun, sepertinya lebih tepatnya karena kasihan. Tak apalah yang penting malam ini makan ikan. Setelah dirasa cukup kami kemudian tidur karena besok pagi-pagi kita harus sudah perjalanan turun ke basecamp.
Korona sang surya lambat laun menyinari seluruh kaldera membuat air danau berwarna tosca  keemasan. Gunung Barujari terlihat menjulang gagah walaupun kecil nan jauh di mata. Suara burung yang berkolaborasi dengan alam, sebenarnya membuat kami enggan untuk meninggalkan tanah surga ini. Tapi apa daya, kami masih memiliki tanggung jawab yang lain. Mengisi perut sudah, ngopi sambil menikmati alam sudah, packing sudah lalu kami beranjak meninggalkan area perkemahan itu. Banyak tetangga-tetangga tenda yang menyalami kami, mengingatkan kami untuk berhati-hati, saling menjaga satu sama lain serta selalu tetap berdoa. Mitos yang beredar adalah jalur yang akan kami lewati lebih susah dan lebih mengerikan dibanding jalur Sembalun. Ya, kami lewat jalur Senaru. Kami juga diwanti-wanti jangan sampai gelap dan jika terlanjur jangan pernah mendirikan tenda di pos 2 dan pos 1.
Degub jantung mulai berirama dengan ritme yang cukup cepat. Jalan menanjak berbatu serta dipinggiran tebing sedikit membuat nyali menciut namun perjalanan ini harus tetap berlanjut. Selangkah demi selangkah tanpa istirahat yang lama karena mengingat waktu yang terus berlari. Aiihh... namun, hanya aku yang terhenti sesaat. Aku menemukan sesuatu yang membuat ku mual. Khas berwarna kuning dengan bau seperti biasanya hadir di depan ku tanpa permisi. Tepat di wajah ku karena dia terletak di anak tangga.Sedangkan tinggi setiap anak tangga yang tersusun dari batu itu hampir setinggi wajahku. Mual dan ingin muntah rasanya. Aku memanggil teman-temanku untuk berhenti sejenak dan minum agar tidak terbayangi ranjau berbahaya itu lagi. Next, kami harus segera melanjutkan jalan-jalan ini karena hari semakin siang.
Pelawangan Senaru. Sekitar sang raja jagat raya telah sedikit melewati garis khatulistiwa kami berada di Pelawangan Senaru. Di situ kami buta arah. Beruntung ada porter yang baik hati menunjukkan rute jalan. Sekarang tidak menanjak lagi melainkan turunan dengan sedikit batuan yang curam. Perlahan asal selamat. Terlepas dari jalanan berbatu sekarang kami melewati jalan yang bertanah dan sudah berada di dalam hutan hujan. Menurutku ini adalah hutan belantara. Baru kali ini melihat hutan yang begitu panjang, lorong-lorong dari akar, suara-suara primata dan hewan-hewan terbang yang lain. Mereka mengiringi lari kecil kami dalam mengejar waktu. Sejenak beristirahat, salah satu temanku menginginkan untuk mendirikan tenda di sini di pos 3 namun, logistik kita sudah habis dan sudah diberikan kepada anak-anak yang berada di Segara Anak tadi, tinggal beberapa roti dan minuman hanya untuk perjalanan hari ini. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berjalan. Kali ini tidak lagi berjalan. Dengan sayu matahari sudah lebih condong ke kaki langit. Kami berlari sekuat tenaga tapi, kami tetap berhati-hati dan mengontrol kaki kami.
Di dalam hutan kabut semakin menyelimuti pertanda akan turun hujan. Benar saja, butir-butir bening telah jatuh membuat keributan di atas permukaan dedaunan. Kami pun berhenti dan mengeluarkan jas hujan agar badan tidak terlalu basah. Di lorong-lorong akar gantung kegelapan semakin menyelimuti karena tidak terdapat celah korona matahari untuk menusuk dalam hutan. Lari dan terus berlari. Bertekad lebih kuat agar segera sampai di pintu keluar. Rasa merinding sana-sini karena mitos setempat. Pikiran sepertinya juga sudah tak lagi berpikiran lain selain selamat sampai keluar hutan. Tenggorokan yang kering tak terasa lagi karena udara dingin dan basah. Kaki yang terbalut sepatu basah dan penuh lumpur begitu dingin rasanya. Menatap lurus dan terus mengucapkan doa jangan sampai pikiran kosong. Terkadang terlintas tukang baso, soto, mi ayam dan es cendol menyemangati kami maka energi kami sepertinya langsung berlipat ganda. Adzan ashar mulai  terdengar yang menandakan sudah dekat dengan pemukiman. Berlari dengan kecepatan maksimal lagi. Sambil menghitung pohon-pohon yang telah di beri nomor oleh pengurus Taman Nasional Gunung Rinjani membuat sedikit lupa dengan hal-hal aneh di sekeliling kami. Perasaan sudah lama kami berlari tapi tidak sampai-sampai juga. Perasaan itu membuat sedikit gugub ditambah sebenarnya banyak porter sedari tadi yang meremehkan kami untuk turun hari ini. Dilarang berhenti pokoknya, abaikan pikiran negatif. Harus tetap bergerak walaupun hanya berjalan.
24, 23, 22, 21 yah 20 pohon lagi guys....semangat... kami berlari dengan kecepatan yang melebihi maksimal tentunya sambil melihat pohon-pohon bernomor itu. Akhirnya besi berkarat itu menampakkan diri. Tepat di akhir perhitungan kami. Walaupun sedikit alay, kami saling bergandengan tangan. Kami melangkahkankan kaki kiri kami sebagai penutup perjalanan yang maha epic ini. Pas kata Allahuakbar terdengar berkumandang dari kejauhan kami melewati pintu gerbang Senaru. Kami tertawa lepas di situ akhirnya bisa keluar dari hutan belantara itu. Gila... benar-benar gila jika gelap kami masih di dalam sana. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gila.. benar-benar pengalaman luar biasa. Tanpa guide tanpa porter men. Misi selesai. Dan kami menuju basecamp Senaru untuk mandi dan menghangatkan diri. Setelah bersih-bersih kami bercerita tentang kejanggalan-kejanggalan yang masing-masing kami rasakan. Well ternyata banyak sekali kejanggalan yang diraskaan teman-teman. Setelah dirasa cukup dan badan sepertinya sudah mengajak untuk terlelap. Kami pun tidur dan menyiapkan untuk perjalanan pulang esok.
Perjalanan pulang kami juga tidak kalah mengasyikkan. Kami di antar mobil sewaan di pelabuhan Lembar. Menyebrang hingga ke pulau Dewata. Karena tidak ada bis antar kota malam itu kami akhirnya nebeng truk fuso. Bapak sopirnya juga baik hati nraktir kami makan malam di salah satu rumah makan yang ada di pinggir pantai, rejeki anak soleh :D. Setelah kami sampai di Banyuwangi kami membeli tiket untuk pulang besok pagi karena tidak ada kereta malam untuk sampai kedaerah kami. Kami memutuskan untuk bermalam di Stasiun Banyuwangi.
Pegawai bersih-bersih stasiun sudah membangunkan kami pertanda stasiun sudah buka. Kami pun menunggu kereta di dalam. Kereta ekonomi kami sudah tiba dan kami melanjutkan tidur di dalam kereta. Selama 14 jam lagi kami berada di dalam kereta. 20 April 2016 kami tiba di Kota tercinta. Hiruk pikuk kota kembali kami rasakan. Dengan perasaan lega, sejuta pengalaman yang kami bawa dan rasa syukur saling beradu dalam hati ini. Misi telah terlaksana tuan.

---------SELESAI-------






Rancu



Jika ada yang menanyakan apa yang kau rindukan saat ini. aku akan menjawab. Aku merindukan waktu. Waktu yang pernah ku lewati. Dengan berbagai macam makhluk. Aku merindukan waktu di mana aku menghabiskan waktu dengan ayah dan ibuku di usia muda. Aku merindukan proses dewasa. Apalagi waktu aku jatuh cinta. Indah saat itu namun, tak lebih indah ketika menjalaninya. Dengan segala lika-liku dengan makhluk sempurna yang diciptakanNya. Dengan seonggok daging yang mungkin bagi orang lain dia tak berguna. Tidak terlalu tinggi drajad dunianya. Namun bagiku inspirasiku adalah dia. Pernah sekali semangatku karena dia. Dan aku merindukan waktu ketika kenal dia. Dan kini, angin saja tidak pernah memberiku kabar tentang gerak jemarinya. Apalagi radarnya telah terputus. Aku tidak tahu kenapa harus mengingat dia malam-malam seperti ini. hanya saja dia terpintas di benakku, hanya sekejap, tidak lebih. Lalu, apa aku tidak boleh? Aku seperti kehilangan sahabat yang sangat dekat denganku. Seperti kehilangan kakak yang memberi dukunganku walau dia sendiri tidak pernah berhasil menjalani kehidupannya. Aku hanya percaya suatu saat takdir baik akan dimilikinya. Semoga. Karna aku akan terlihat lebih bahagia ketimbang dia yang akan mendapatkannya. Yah.. kurasa. Karna aku di sini telah memiliki pendukung yang telah sekian lama setia melakukan apapun untukku. yah tentu saja. aku juga akan bahagia dengan apa yang kumiliki saat ini.
Aku telah lupa. Lupa tentang kamu nan jauh di sana. rinduku yang dulu menggebu kini telah habis tersayat luka. Mengering dan tanpa bekas. Namun, rasa itu telah kembali mengacaukan ku. Rasa takut kehilangan dirimu yang lama. Takut terlalu melarang kamu. Sebenarnya aku juga tidak mau terlalu protektif. Tapi, bagaimana? Hatiku terlanjur mencintaimu, terlanjur jatuh dan tidak mau jika begitu saja di hempaskan. Begitu saja kecemburuannya. Ingin mengepal dan menghantam satu pohon hingga tumbang. Rasa itu membuatku begadang. Rasa itu membuatku diam seribu bahasa. Entah aku harus bagaimana? Ingin aku sendiri di tempat sunyi. Hanya ada aku, angin dan waktu yang terus berjalan serta mendesakku terus-menerus untuk memikirkan sesuatu yang terang saja itu tidak perlu dipikirkan sedalam itu. Karna jika kau percaya kamu akan selamat dari imajinasi negatif itu. Percayalah. Kau hanya perlu kecupan di kening dan dekapan dalam beberapa detik.
Dingin, kantuk dan rasa aneh yang menggeliat terklahkan oleh kecemburuan. Masih saja membekas. Alah malam-malam seperti ini kau hanya mengigau. Sudahlah nikmati saja semuanya. Toh kamu juga punya sahabat yang selalu bisa kasih saran sama kamu. Sudahlah, jangan cemburu lagi. Hujannya di langit turunnya di tanah basahnya di pipi. Mosok gitu?haha sudahlah sini. Peluk sinih. Gek tidur sana besok kuliah kan? Eh nungguin itu belum pada pulang. aku lagi pengen menenangkan diri. Aku matu tanya. Enak nggak sih punya cowok tenang gituh? Rasanya kalau punya cowok yang pendiem, tapi dia bisa srawung gitu kalau ketemu sama orang baru. Humoris sih. Tapi, nggak jai, dan bisa menempatlkan diri. Apalagi penuh kejutan. Aku juka suka kejutan. Sebenarnya simple saja nggak usah bilang. Nggak glamor aja aku juga senang kok. Lebih dari cukup untuk sekarang. Pasti enak ya J . tapi, kan aku harus bersyukur toh belum juga bakal jadi suaminya. Walaupun aku berusaha nanti akan menjadi pendamping dia selamanya. Tapi, aku suka lelaki yang tenang dengan jati dirinya. Apapun urusan yang akan dihadapinya apapun perkataan orang terhadapnya tetap sabar, rendah hati dan cuek lah yang penting life must go on. Sosok impian juga.
Sedih. Marah itu sulit dicerna. Maka lebih ku memilih diam sejuta bahasa. Itupun juga sulit. Aduhai.