Semua ini alamlah yang mempersatukan, tak pernah ku memilih dirimu untuk aku cintai. Tak pernah ku paksa rasa untuk peka. Semua mengalir mengikuti hembusan angin yang pasang surut. Hanya saja tatkala mentari di petala langit betapa kurasakan nestapa yang begitu rumit hingga senja menjejalkan dirinya di mataku perihal itu tak kunjung ikut sirna tertelan bumi. Tidak dapat dijelaskan lagi dengan lisan ataupun guratan yang tentunya aku mencintaimu dengan statis. Maafkan aku yang sedang terkoyak-koyak di dalam ruang rindu tuk memastikan engkau tetap dalam rongga terdalam. Dan membuatmu menunggu, menunggu lalu tergantung....
No comments:
Post a Comment