Friday, February 23, 2018

Rinjani Surga yang Terdampar





Sebuah perjalanan mendekati cakrawala. Suatu tempat dengan koordinat 8°25’ LU 116°28’BT dan 8,417°LS 116,467°BT lalu di ketinggian 12,224 kaki yang harus menguras ego, kesah dan darah tinggi hingga kering. Karena di sini hanya kaki yang akan terus melangkah, tangan yang akan selalu siap menolong kapan pun, tubuh yang akan menopang beban, mulut yang akan terus berdoa serta mengucap syukur dan mata yang akan selalu disapa hamparan keindahan yang maha dahsyat. Di sini, di tengah salah satu belantara tropis pertiwi. Taman Nasional Gunung Rinjani. Pengalaman perjalanan yang membuatku merinding setiap aku mengingatnya. Pengalaman yang membuat mataku menerawang jauh kembali pada masa perjalanan itu.
Tulisan-tulisan dalam buku harian tahun 2015 ku menjadi saksi tertua tentang rencana perjalanan yang penuh cerita. Rentetan rencana tersusun rapi untuk eksekusi perjalanan yang akan ku laksanakan di tahun 2016. Tepatnya 11 April 2016 menjadi tanggal sakral untuk keberangkatan ku menuju secuil surga yang terdampar di bumi. Aku tidak sendiri melainkan bersama sahabat-sahabat yang diutus oleh Tuhan untuk bersama-sama menapaki tanah Rinjani.
Di langit timur telah semburat kemerahan menandakan sang Ratu Jagat Raya telah terbangun untuk menerangi wilayahnya. Kami ber lima telah siap dengan beban carrier di punggung, kami tak lupa gaya sok cool khas kami berlima telah terpasang beberapa jam yang lalu. Lalu, kami menuju kereta yang menuju Banyuwangi. Yah kami berada di kereta sekitar 14 jam hingga matahari telah pergi menerangi bagian bumi yang lain. Petang itu kami langsung menyebrangi selat Bali dan menggunakan bis malam menuju pelabuhan Padang Bay untuk menyeberang ke Pulau Lombok. Memerlukan waktu sekitar empat jam untuk sampai ke Pelabuhan Lembar, Lombok.
Perahu nelayan, perahu barang, kapal ferri, kapal tambang dan masih banyak kapal-kapal yang lain menyapa kami di pelabuhan Lembar. Orang-orang dengan pakaian khas adat Pulau Lombok juga ikut menyapa kami dengan menjajakan kain-kain khas dari sana. Namun, pedagang nasi bungkus lah yang kami terima sapaannya untuk kali ini. Lumayan untuk mengisi perut, nasi bungkus khas Lombok. Waktu itu langit sepertinya juga ikut menyapa karena mendung sudah menurunkan hujan begitu lebat hingga kami berteduh di parkiran mobil sambil menunggu jemputan mobil sewaan kami.
Dingin terasa karena AC mobil dan baju kami sedikit basah terkena hujan tadi. Mau ganti pakaian tapi, biarlah nanti juga kering sendiri. Lagi pula kami tidak membawa stok pakaian yang banyak untuk rencana yang lumayan menghabiskan hari ini. Butuh beberapa jam untuk sampai ke Sembalun. Sembalun adalah desa di mana ekspedisi kami akan segera di mulai. Di sepanjang jalan mata ini dibelalakkan oleh bukit-bukit yang hitz, indahnya bukan main dan tentunya mengganjal di mata dan efeknya tidak menyebabkan ngantuk.  
Kaki langit sudah dalam kegelapan, semua masjid mulai mengumandangkan adzannya. Kami pun merapat di dalam rumah atau biasa disebut dengan basecamp setelah puas mengamati gunung tertinggi kedua di negara ini dari halaman belakang basecamp. Menata diri, menata hati dan tentunya menata barang yang akan di bawa untuk eksekusi besok pagi. Setelah itu kami tidur agar stamina selalu fit.
Sapi-sapi mulai di lepas oleh pemiliknya dibiarkan berkeliaran mencari makan begitu saja, terserah kemana arah kaki mereka melangkah. Menjelang magrib mereka akan pulang kekandang dengan sendirinya. Sapi-sapi itu mengiringi awal ekspedisi kami dari basecamp. Sebelum keberangkatan kami berpamitan kepada pemilik basecamp karena sepulangnya dari Rinjani tidak melewati jalur yang sama dan tidak lupa juga kami membayar seluruh sewaannya. Setelah itu kami berdoa dan mulai menapakki hamparan ladang dan sabana sebagai langkah awal piknik cerdas ini.
Rute mulai menanjak pada pos 1 menuju pos 2 tak jarang kami bertemu dengan turis-turis asing sedangkan untuk turis lokal kami jarang berjumpa. Jalurnya menyenangkan, masih terbuka dan belum memasuki hutan. Walaupun kami begitu senang tapi kami kelelahan juga. Kami menyempatkan beristirahat di pos 2  sambil menikmati pemandangan. Di pos 2 suasananya ramai. Banyak turis asing beserta guide dan porternya sedang beristirahat juga dan makan siang. Melihat masakan-masakan dari porter sepertinya lezat sekali, buahnya aduhai membuat menelan ludah. Lalu, apalah daya kami yang tanpa porter dan guide. Nasi bungkus dari basecamp pun juga lezat. Hihihi....
Matahari mulai diatas petala langit, sinarnya seperti membakar kulit-kulit ari yang masih melekat. Walaupun begitu kami memutuskan untuk melanjutkan ke pos 3. Jalan yang sangat lambat karena panas dan lelah yang mulai menyelubungi niat kami. Namun, semangat tetap membara. Sekeliling kamilah yang menguatkan hingga tidak kerasa sudah sampai di pos 3 saja. Di situ kami mendirikan tenda, dan mulai memasak. Karena di dekat pos 3 terdapat sungai yang agak kering kita mencari air juga dan ternyata airnya ada di ujung sungai itu yang ujungnya adalah air terjun. Setelah perut kenyang kami beranjak ketenda dan segera membuat mimpi karena esok harus bangun pagi-pagi dan melanjutkan ekspedisi. Di sini baru saja seperempat perjalanan.
Sebelum matahari menampakkan koronanya kami terlebih dahulu siap untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini bukit yang konon sangat menyesal karena namanya bukit penyesalan. Lah sudah, lupakan tentang bukit penyesalan dinamakan itu karena bukitnya begitu menanjak dan susah dilalui. Namun, tidak berlaku untuk kami. Memang kami tahu tentang adanya bukit penyesalan itu tapi, kami tidak tahu di mana letak bukit itu. Sedangkan kami tahu letak bukit penyesalan setelah kami tanya kepada seorang porter tentang keberadaan kami. Kami telah berada di atas bukit penyesalan dan kami diucapin selamat oleh porternya karena sudah melewati bukit penyesalan tanpa menyesal.
Gerbang menuju puncak mahadewi, puncak Anjani ataupun puncak Rinjani adalah Pelawangan. Di mana satu sisi nya terlihat kaldera dengan Gunung Barujari dan Danau Segara Anak serta sisi satunya terlihat samudera. Kami mendirikan tenda di situ dan melakukan hal yang sama seperti di pos 3. Memasak, mencari air, makan, tidur dan bedanya kali ini kami harus bangun pukul 00.00 untuk summit attack. Itu mah bahasa gaulnya untuk muncak hehe... mengapa kami muncak jam segitu? Ya karena kami sadar kami masih lambat untuk berjalan dan tentunya untuk berjaga-jaga agar tetap aman dan tidak ketinggalan untuk mendapatkan sunrise.
Antariksa masih menyuguhkan jutaan bintang dan galaksi yang terpapar dengan nyata. Udara dingin saling beradu dengan kabut tipis menambah syahdunya suasana. Pasir, batuan kecil mengiringi langkah kami yang menurutku ini begitu memuakkan. Walaupun kanan kiri pemandangannya oke gerutu ini masih terucap dalam hati. Jalur leter S leter U lalu leter apalagi pekikku ya tentunya di hati. Sebal rasanya karena lapar dan dingin sesekali membuatku untuk berhenti dipinggir dan bersembunyi diantara batu-batu besar agar tidak terkena angin yang maksimal menambah dinginnya tubuh. Setelah agak semangat dan sedikit mengeluh lagi dengan diriku sendiri pasir ini lagi-lagi membuat semangatku menjadi abu-abu, selangkah merosot melangkah lagi merosot lagi begitu saja sampai tahun depan pikirku. Hingga akhirnya aku merasa putus asa, merasa sudahlah puncak hanyalah bonus, kan tidak harus ke puncak. Air mata ku pun lambat laun mulai menetes. Suasana hati yang kacau membuat ku ingin berhenti sampai di sini saja. Aku lelah ya aku lelah. Aku terdiam sejenak, melihat sekelilingku orang-orang bersemangat menapakki jalan berpasir itu. Matahari juga mulai memunculkan koronanya di sela-sela awan putih nan tebal itu membuat warna-warna indah di langit. Tuhan bantu aku. Seketika rasaku kembali bangkit aku harus bisa. Bagaimana pamitmu kepada Ibumu pikirku. Ya aku pamit ke Rinjani dan di puncaknya. Dengan tekad yang telah kembali aku mengusap air mataku dan walau sebenarnya air mataku terus menetes mengiringi setiap jejakan kakiku. Langkah demi langkah dan akhirnya.....
Langit biru membentang dengan segala hiasan-hiasannya, awan-awan kecil beriritan membentuk seperti samudera. Awan-awan liar berkeliaran dengan liar di antara bukit-bukit Pelawangan membentuk seperti air terjun. Terlihat jelas samudera dengan tiga pulau ternama di Lombok, Gili Terawangan, Gili Air dan Gili Meno. Dalam Kaldera Danau Segara Anak menjadi ratu dan Gunung Barujari menjadi rajanya keindahan. Exited. Kata yang pertama kali terlintas dalam otakku. Rasa syukur yang teramat. Rasa kagum tiada duanya dan entah rasa yang benar-benar hanya dapat dirasakan bahkan dengan gambar pun tidak mampu diperlihatkan. Mataku mulai berair lagi. Kali ini bukan gerutu namun kebahagiaan. Ini... benar-benar surga yang terdampar.
Setelah kami menikmati hamparan keindahan dengan cara kami masing-masing kami memutuskan untuk kembali ke tenda. Karena masih ada satu titik di mana kami akan membeku untuk kesekian kalinya. Oh ya tentunya kami tidak lupa berfoto, kesempatan langka ini ... :D
Sejenak istirahat dan mencari air untuk persediaan. Kami melanjutkan perjalanan menuju kaldera. Tidak nanjak lagi melainkan menuruni bukit. Cuaca waktu itu berkabut hingga meneteskan embun-embun kecil. Walaupun begitu kami sangat antusias untuk segera sampai ke danau Segara Anak. Di perjalanan ternyata tidak sesingkat yang dibayangkan. Jalanannya berupa bebatuan yang keras, licin dan jalurnya berada di tepian jurang. Tergelincir sedikit saja pasti akan terluka bahkan mungkin patah tulang. Sedikit demi sedikit dengan penh kesabaran dan juga tergesa-gesa karena takut kemalaman soalnya ya begitulah tahu sendiri rasanya senja di gunung di dalam hutan.
Dari tadi matahari sayu karena tertutup mendung, hingga senja pun tidak mendarat dengan sempurna. Akhirnya kami sampai di depan hamparan air yang luas dengan gunung aktif kecil di tengah perairan. Sebenarnya agak kekiri sih. Di pinggir danau itu kami mulai membangun tenda, memasak nasi karena sedari tadi pagi kami menahan lapar dan hanya mengganjalnya dengan camilan-camilan ringan. Di sisi lain tempat ini banyak ikan mas dan mujairnya loh, banyak orang-orang yang sedang mancing juga. Sayang kami tidak ada yang bisa mancing dengan profesional. Kail dan benang bawa tapi tidak satu pun ikan yang di dapat ikan kecil-kecil saja lari. Lalu, temanku tidak putus asa begitu saja, dia melepas sarungnya dan segera menjaring dengan sarungya. Tidak seperti yang dibayangkan sulit sekali ternyata untuk mendapatkan ikan. Akhirnya tetangga sebelah yang baik hati suka rela memberikan hasil pancingannya kepada kami, namun, sepertinya lebih tepatnya karena kasihan. Tak apalah yang penting malam ini makan ikan. Setelah dirasa cukup kami kemudian tidur karena besok pagi-pagi kita harus sudah perjalanan turun ke basecamp.
Korona sang surya lambat laun menyinari seluruh kaldera membuat air danau berwarna tosca  keemasan. Gunung Barujari terlihat menjulang gagah walaupun kecil nan jauh di mata. Suara burung yang berkolaborasi dengan alam, sebenarnya membuat kami enggan untuk meninggalkan tanah surga ini. Tapi apa daya, kami masih memiliki tanggung jawab yang lain. Mengisi perut sudah, ngopi sambil menikmati alam sudah, packing sudah lalu kami beranjak meninggalkan area perkemahan itu. Banyak tetangga-tetangga tenda yang menyalami kami, mengingatkan kami untuk berhati-hati, saling menjaga satu sama lain serta selalu tetap berdoa. Mitos yang beredar adalah jalur yang akan kami lewati lebih susah dan lebih mengerikan dibanding jalur Sembalun. Ya, kami lewat jalur Senaru. Kami juga diwanti-wanti jangan sampai gelap dan jika terlanjur jangan pernah mendirikan tenda di pos 2 dan pos 1.
Degub jantung mulai berirama dengan ritme yang cukup cepat. Jalan menanjak berbatu serta dipinggiran tebing sedikit membuat nyali menciut namun perjalanan ini harus tetap berlanjut. Selangkah demi selangkah tanpa istirahat yang lama karena mengingat waktu yang terus berlari. Aiihh... namun, hanya aku yang terhenti sesaat. Aku menemukan sesuatu yang membuat ku mual. Khas berwarna kuning dengan bau seperti biasanya hadir di depan ku tanpa permisi. Tepat di wajah ku karena dia terletak di anak tangga.Sedangkan tinggi setiap anak tangga yang tersusun dari batu itu hampir setinggi wajahku. Mual dan ingin muntah rasanya. Aku memanggil teman-temanku untuk berhenti sejenak dan minum agar tidak terbayangi ranjau berbahaya itu lagi. Next, kami harus segera melanjutkan jalan-jalan ini karena hari semakin siang.
Pelawangan Senaru. Sekitar sang raja jagat raya telah sedikit melewati garis khatulistiwa kami berada di Pelawangan Senaru. Di situ kami buta arah. Beruntung ada porter yang baik hati menunjukkan rute jalan. Sekarang tidak menanjak lagi melainkan turunan dengan sedikit batuan yang curam. Perlahan asal selamat. Terlepas dari jalanan berbatu sekarang kami melewati jalan yang bertanah dan sudah berada di dalam hutan hujan. Menurutku ini adalah hutan belantara. Baru kali ini melihat hutan yang begitu panjang, lorong-lorong dari akar, suara-suara primata dan hewan-hewan terbang yang lain. Mereka mengiringi lari kecil kami dalam mengejar waktu. Sejenak beristirahat, salah satu temanku menginginkan untuk mendirikan tenda di sini di pos 3 namun, logistik kita sudah habis dan sudah diberikan kepada anak-anak yang berada di Segara Anak tadi, tinggal beberapa roti dan minuman hanya untuk perjalanan hari ini. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berjalan. Kali ini tidak lagi berjalan. Dengan sayu matahari sudah lebih condong ke kaki langit. Kami berlari sekuat tenaga tapi, kami tetap berhati-hati dan mengontrol kaki kami.
Di dalam hutan kabut semakin menyelimuti pertanda akan turun hujan. Benar saja, butir-butir bening telah jatuh membuat keributan di atas permukaan dedaunan. Kami pun berhenti dan mengeluarkan jas hujan agar badan tidak terlalu basah. Di lorong-lorong akar gantung kegelapan semakin menyelimuti karena tidak terdapat celah korona matahari untuk menusuk dalam hutan. Lari dan terus berlari. Bertekad lebih kuat agar segera sampai di pintu keluar. Rasa merinding sana-sini karena mitos setempat. Pikiran sepertinya juga sudah tak lagi berpikiran lain selain selamat sampai keluar hutan. Tenggorokan yang kering tak terasa lagi karena udara dingin dan basah. Kaki yang terbalut sepatu basah dan penuh lumpur begitu dingin rasanya. Menatap lurus dan terus mengucapkan doa jangan sampai pikiran kosong. Terkadang terlintas tukang baso, soto, mi ayam dan es cendol menyemangati kami maka energi kami sepertinya langsung berlipat ganda. Adzan ashar mulai  terdengar yang menandakan sudah dekat dengan pemukiman. Berlari dengan kecepatan maksimal lagi. Sambil menghitung pohon-pohon yang telah di beri nomor oleh pengurus Taman Nasional Gunung Rinjani membuat sedikit lupa dengan hal-hal aneh di sekeliling kami. Perasaan sudah lama kami berlari tapi tidak sampai-sampai juga. Perasaan itu membuat sedikit gugub ditambah sebenarnya banyak porter sedari tadi yang meremehkan kami untuk turun hari ini. Dilarang berhenti pokoknya, abaikan pikiran negatif. Harus tetap bergerak walaupun hanya berjalan.
24, 23, 22, 21 yah 20 pohon lagi guys....semangat... kami berlari dengan kecepatan yang melebihi maksimal tentunya sambil melihat pohon-pohon bernomor itu. Akhirnya besi berkarat itu menampakkan diri. Tepat di akhir perhitungan kami. Walaupun sedikit alay, kami saling bergandengan tangan. Kami melangkahkankan kaki kiri kami sebagai penutup perjalanan yang maha epic ini. Pas kata Allahuakbar terdengar berkumandang dari kejauhan kami melewati pintu gerbang Senaru. Kami tertawa lepas di situ akhirnya bisa keluar dari hutan belantara itu. Gila... benar-benar gila jika gelap kami masih di dalam sana. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gila.. benar-benar pengalaman luar biasa. Tanpa guide tanpa porter men. Misi selesai. Dan kami menuju basecamp Senaru untuk mandi dan menghangatkan diri. Setelah bersih-bersih kami bercerita tentang kejanggalan-kejanggalan yang masing-masing kami rasakan. Well ternyata banyak sekali kejanggalan yang diraskaan teman-teman. Setelah dirasa cukup dan badan sepertinya sudah mengajak untuk terlelap. Kami pun tidur dan menyiapkan untuk perjalanan pulang esok.
Perjalanan pulang kami juga tidak kalah mengasyikkan. Kami di antar mobil sewaan di pelabuhan Lembar. Menyebrang hingga ke pulau Dewata. Karena tidak ada bis antar kota malam itu kami akhirnya nebeng truk fuso. Bapak sopirnya juga baik hati nraktir kami makan malam di salah satu rumah makan yang ada di pinggir pantai, rejeki anak soleh :D. Setelah kami sampai di Banyuwangi kami membeli tiket untuk pulang besok pagi karena tidak ada kereta malam untuk sampai kedaerah kami. Kami memutuskan untuk bermalam di Stasiun Banyuwangi.
Pegawai bersih-bersih stasiun sudah membangunkan kami pertanda stasiun sudah buka. Kami pun menunggu kereta di dalam. Kereta ekonomi kami sudah tiba dan kami melanjutkan tidur di dalam kereta. Selama 14 jam lagi kami berada di dalam kereta. 20 April 2016 kami tiba di Kota tercinta. Hiruk pikuk kota kembali kami rasakan. Dengan perasaan lega, sejuta pengalaman yang kami bawa dan rasa syukur saling beradu dalam hati ini. Misi telah terlaksana tuan.

---------SELESAI-------






Rancu



Jika ada yang menanyakan apa yang kau rindukan saat ini. aku akan menjawab. Aku merindukan waktu. Waktu yang pernah ku lewati. Dengan berbagai macam makhluk. Aku merindukan waktu di mana aku menghabiskan waktu dengan ayah dan ibuku di usia muda. Aku merindukan proses dewasa. Apalagi waktu aku jatuh cinta. Indah saat itu namun, tak lebih indah ketika menjalaninya. Dengan segala lika-liku dengan makhluk sempurna yang diciptakanNya. Dengan seonggok daging yang mungkin bagi orang lain dia tak berguna. Tidak terlalu tinggi drajad dunianya. Namun bagiku inspirasiku adalah dia. Pernah sekali semangatku karena dia. Dan aku merindukan waktu ketika kenal dia. Dan kini, angin saja tidak pernah memberiku kabar tentang gerak jemarinya. Apalagi radarnya telah terputus. Aku tidak tahu kenapa harus mengingat dia malam-malam seperti ini. hanya saja dia terpintas di benakku, hanya sekejap, tidak lebih. Lalu, apa aku tidak boleh? Aku seperti kehilangan sahabat yang sangat dekat denganku. Seperti kehilangan kakak yang memberi dukunganku walau dia sendiri tidak pernah berhasil menjalani kehidupannya. Aku hanya percaya suatu saat takdir baik akan dimilikinya. Semoga. Karna aku akan terlihat lebih bahagia ketimbang dia yang akan mendapatkannya. Yah.. kurasa. Karna aku di sini telah memiliki pendukung yang telah sekian lama setia melakukan apapun untukku. yah tentu saja. aku juga akan bahagia dengan apa yang kumiliki saat ini.
Aku telah lupa. Lupa tentang kamu nan jauh di sana. rinduku yang dulu menggebu kini telah habis tersayat luka. Mengering dan tanpa bekas. Namun, rasa itu telah kembali mengacaukan ku. Rasa takut kehilangan dirimu yang lama. Takut terlalu melarang kamu. Sebenarnya aku juga tidak mau terlalu protektif. Tapi, bagaimana? Hatiku terlanjur mencintaimu, terlanjur jatuh dan tidak mau jika begitu saja di hempaskan. Begitu saja kecemburuannya. Ingin mengepal dan menghantam satu pohon hingga tumbang. Rasa itu membuatku begadang. Rasa itu membuatku diam seribu bahasa. Entah aku harus bagaimana? Ingin aku sendiri di tempat sunyi. Hanya ada aku, angin dan waktu yang terus berjalan serta mendesakku terus-menerus untuk memikirkan sesuatu yang terang saja itu tidak perlu dipikirkan sedalam itu. Karna jika kau percaya kamu akan selamat dari imajinasi negatif itu. Percayalah. Kau hanya perlu kecupan di kening dan dekapan dalam beberapa detik.
Dingin, kantuk dan rasa aneh yang menggeliat terklahkan oleh kecemburuan. Masih saja membekas. Alah malam-malam seperti ini kau hanya mengigau. Sudahlah nikmati saja semuanya. Toh kamu juga punya sahabat yang selalu bisa kasih saran sama kamu. Sudahlah, jangan cemburu lagi. Hujannya di langit turunnya di tanah basahnya di pipi. Mosok gitu?haha sudahlah sini. Peluk sinih. Gek tidur sana besok kuliah kan? Eh nungguin itu belum pada pulang. aku lagi pengen menenangkan diri. Aku matu tanya. Enak nggak sih punya cowok tenang gituh? Rasanya kalau punya cowok yang pendiem, tapi dia bisa srawung gitu kalau ketemu sama orang baru. Humoris sih. Tapi, nggak jai, dan bisa menempatlkan diri. Apalagi penuh kejutan. Aku juka suka kejutan. Sebenarnya simple saja nggak usah bilang. Nggak glamor aja aku juga senang kok. Lebih dari cukup untuk sekarang. Pasti enak ya J . tapi, kan aku harus bersyukur toh belum juga bakal jadi suaminya. Walaupun aku berusaha nanti akan menjadi pendamping dia selamanya. Tapi, aku suka lelaki yang tenang dengan jati dirinya. Apapun urusan yang akan dihadapinya apapun perkataan orang terhadapnya tetap sabar, rendah hati dan cuek lah yang penting life must go on. Sosok impian juga.
Sedih. Marah itu sulit dicerna. Maka lebih ku memilih diam sejuta bahasa. Itupun juga sulit. Aduhai.