Pagi itu, ya pagi itu
Pukul dua lebih seperempat
Ku berangkat ke utara untuk menjemput sang Arunika
Menembus kabut meski dengan dahi yang mengkerut
Dingin tapi apadaya hati sedang ingin,
Dengan mata yang menggantung, tiba lah aku di tempat yang membuatku terpasung
Terpasung akan binar yang mulai mekar
Berdebar dan bersabar
Hingar bingar seakan muncul dengan tak terdengar
Merangsak pelan dan terus perlahan
Kurasakan semilir yang mulai menenangkan pikir
Suara peksi memeriahkan gendang telingaku yang lama tak berfungsi
Sungguh ini seperti ilusi
Kuseduh kopi dengan segenap asa dan karsa
Ditemani kidung sianak sulung
Sssrt...ahhh!
Kopi lembah Bisma memang tiada tara
Namun ada yang berbeda dengan rasa
ASMARALOKA, ohh kenapa ?
Teringat pada sosok yang memikat
Tanpa permisi menusuk hati dengan presisi
Menyerang, tegang dan meradang
Belum cukupkah? Belum pantaskah? Belum Puaskah?
Perasaan yang dulu terekam membuat suasana begitu mencekam
Bagai peluru timah yang sudah tidak bisa lagi ditemah
hahahha dasar lemah!
Selalu berhasil membuatku bodoh dan bertindak ceroboh
Ironi, seperti bukan diri sendiri bak kehilangan jati diri
Fyuuh..., namun tak apa
Tetap kunikmati bersama litani
Dan gulana perlahan berubah menjadi doa
Semoga, semoga dan semoga
Aku yakin, Renjana akan membawaku pada Dewasa.