Daun daun
gugur di matamu, di antara pilu memerah, pun entah membiru. Lalu, adakah yang
lebih indah dari pada bercinta denganmu di tengah tempuran kali sore itu?
Aliran deru sungai bersenggama bising dalam libidomu dan kau teriakan segala
keluh kesahmu dalam angka angka yang tak dapat di eja tiap detiknya. Gelas
gelas berdenting dan bersulang merayakan kepergianmu puan. Lalu mau berapa kali
lagi kau akan menyeka air matamu di sepertiga malam, mengumpat keras di
keheningan, dan anjing anjing liar akan menertawai kepedihanmu yang pilu di
hari itu.. entah. Lagi lagi kau masih akan memacu otak kecilmu yang berlari
penuh keluh di jalan ketidakpastian. Entah aku, kamu, atau mereka selalu
berlari dalam arus yang entah membawamu kemana. Dan kini kamu tiba di
persimpangan tempuran kali itu. Dan kita akan di pertemukan lagi, di bawah
langit yang sama, di antara batuan kali yang terus terkikis arus deras, lalu
melupakan segalanya, dan kembali bercinta lagi, di tengah tempuran kali.
Kini
kau tinggalah kenangan dalam kepala, menghatuiku terus menerus setiap malam. Aku
lupa berapa kali bayangmu mendorongku di ruang kehampaan, menyayat segalanya di
seisi otak dan melemahkan tubuh ini. Isme isme mu yang entah jadi apa membuat
ideologimu menjadi omong kosong belaka di telinga ini. Apa itu? Yang aku dengar
hanyalah dengung belaka dan hanya terdengar bisikan “biiiippppppp!!” memuakan.
No comments:
Post a Comment