Sunday, December 12, 2021

Tempuran Kali

 

Daun daun gugur di matamu, di antara pilu memerah, pun entah membiru. Lalu, adakah yang lebih indah dari pada bercinta denganmu di tengah tempuran kali sore itu? Aliran deru sungai bersenggama bising dalam libidomu dan kau teriakan segala keluh kesahmu dalam angka angka yang tak dapat di eja tiap detiknya. Gelas gelas berdenting dan bersulang merayakan kepergianmu puan. Lalu mau berapa kali lagi kau akan menyeka air matamu di sepertiga malam, mengumpat keras di keheningan, dan anjing anjing liar akan menertawai kepedihanmu yang pilu di hari itu.. entah. Lagi lagi kau masih akan memacu otak kecilmu yang berlari penuh keluh di jalan ketidakpastian. Entah aku, kamu, atau mereka selalu berlari dalam arus yang entah membawamu kemana. Dan kini kamu tiba di persimpangan tempuran kali itu. Dan kita akan di pertemukan lagi, di bawah langit yang sama, di antara batuan kali yang terus terkikis arus deras, lalu melupakan segalanya, dan kembali bercinta lagi, di tengah tempuran kali.

                Kini kau tinggalah kenangan dalam kepala, menghatuiku terus menerus setiap malam. Aku lupa berapa kali bayangmu mendorongku di ruang kehampaan, menyayat segalanya di seisi otak dan melemahkan tubuh ini. Isme isme mu yang entah jadi apa membuat ideologimu menjadi omong kosong belaka di telinga ini. Apa itu? Yang aku dengar hanyalah dengung belaka dan hanya terdengar bisikan “biiiippppppp!!” memuakan.

No comments:

Post a Comment