Entah mengapa aku merindukanmu...
Merindukan segalanya
Apalagi tingkahmu
Aku rindu mendampingimu
Aku rindu kamu di sini
Saturday, January 12, 2019
*8
Wednesday, January 2, 2019
#15
Ah sialan.... Ternyata aku begitu mengagumimu... Entahlah... Mengapa waktu begitu tega denganku... Mengobrak abrik perasaanku. Memutar balikkan keadaan... Mengguncang rasa yang telah terpatri... Menusuk mimpi yang tengah tertata rapi... Entahlah... Hanya dia, waktu yang mengerti mengapa ia hadir merusak takdir
Saturday, December 15, 2018
#14
Semua ini alamlah yang mempersatukan, tak pernah ku memilih dirimu untuk aku cintai. Tak pernah ku paksa rasa untuk peka. Semua mengalir mengikuti hembusan angin yang pasang surut. Hanya saja tatkala mentari di petala langit betapa kurasakan nestapa yang begitu rumit hingga senja menjejalkan dirinya di mataku perihal itu tak kunjung ikut sirna tertelan bumi. Tidak dapat dijelaskan lagi dengan lisan ataupun guratan yang tentunya aku mencintaimu dengan statis. Maafkan aku yang sedang terkoyak-koyak di dalam ruang rindu tuk memastikan engkau tetap dalam rongga terdalam. Dan membuatmu menunggu, menunggu lalu tergantung....
#13
Kemarilah sayang, kupersilahkan peluk ini untukmu. Tenggelamlah di dada bersama mimpimu sedalam-dalamnya. Kemarilah, kaitkan jari-jarimu dengan jari-jariku. Begitu terasa desiran darah yang mengalir hingga keotak. Tak ingin aku bosan untuk hidup bersamamu. Ciuman demi ciuman mendarat di wajahmu yang kurasa tuluslah dirimu saat ini walau dalam nestapa. Perpisahan adalah benci yang berulang dan sebenarnya aku tak ingin berada di posisi yang mematikan rasaku secara perlahan.
Sunday, December 9, 2018
Dalam Senja Yang Menua, Copy Right 2015
Di temani mentari yang semakin termakan garis langit
Ombak berayun bergulung berkejaran
Melikuk-likuk mendung memposisikan barisan
Angin sepoi menggoreskan kelembutan di permukaan air
Kacamataku hendak memalingkan itu semua
Namun, mesin otakku tak mengizinkannya
Dan memprogram rangka ini tuk bergemulai
Mengikuti nada-nada desiran pasir
Alunan itu semakin menguatkan emosiku
Udara yang semakin dingin
Membekukan bulu kudukku
Gerakku semakin erotic
Hingga aku dalam khayalanku
Titik lelahku memerah
Kumohon hentikan!
Jangan buat aku tenggelam,
Semakin tenggelam dalam klise
SEPERTINYA, Copy Right 2013
Mungkin aku dan kamu dipandang temen-temen kita cocog. Namun entah apa yang merusak kata itu. Mungkin ini juga salahku karna aku terlalu berani mengatakan ini semua. Aku ingat dengan kenangan-kenangan indah itu, aku ingat kata-kata itu dikala saat itu 22 September 2011. Aku ingat semua omongan temen-temen tentang hubungan kita, aku ingat semua cerita cinta kita, aku ingat harapan dan janji-janji kita. Namun, mungkin semua kan berakhir, dengan hanya satu alasan. Kebosanan menyelimuti dinding hati ini. Keinginan tuk sendiri menaburi naluriku untuk bebas merasakan dunia yang baru. Cinta yang dulu datang dengan malu-malu. Yang membuat semua berubah menjadi sepi. Dulu, dikala merah putih yang tak tahu apa arti sebenarnya cinta, masa biru putih memulai merakit cerita, walau dusta banyak mengelilingi kita berdua. Masa putih abu-abu yang baru mulai mengalir. Namun, di sini, terdapat godaan-godaan yang lebih gila! Cinta yang dulu ku pungkiri, kini datang dengan beribu harapan, berjuta kemesraan, bermiliaran kasih sayang yang terus menghantuiku. Semuanya datang dengan tiba-tiba. Aku takut bila cinta itu tak seindah cinta yang kamu berikan. Bagaimana ini? Haruskah cintaku putus di tengah langit? Membelah matahari dan menggelapkan seluruh cinta kita? Akankah harus ku memanggil bulan untuk tetap menjaga bintang cinta ini agar tetap bersinar dan menghangatkan naluriku. Ku ingin semua bahagia. Tanpa ada rasa luka. Dan ku ingin pelangi hadir memayungi perasaan ini dikala hujan bimbang yang tak henti-hentinya turun. Walau dinginnya terasa namun, aku butuh embun tuk menyegarkan kerongkonganku yang haus akan perhatianmu, cintamu, dan seluruh kasih sayang yang pernah engkau berikan. Agar perasaanku padamu tak pernah lagi berkeliaran.
Monday, October 22, 2018
#11
Kali ini hujan yang tak kunjung reda membawaku semakin jauh menyelami kenangan. Ya bersamamu, sudah ku pastikan rasa itu kian lama kian tumbuh. Ia terus berkembang membentuk lapisan yang sulit dihancurkan. Perasaan ingin tahu tentangmu semakin besar. Rahasia tentangnmu semakin ikin ku selami. Apa sebuah arti ketulusan itu jika ketulusan itu ternyata salah sasaran. Pertanyaan2 macam itu tak dapat dijawab juga sulit diucapkan. Hanya dihati dan hanya melayang-layang bebas di angan tanpa jawaban yang pasti. Dan pada akhirnya kata pasrah yg menguasai. Serahkan semua kepada Tuhan apa yg akan terjadi dan aku benci. Segala hanya diujung bayang.